Komunitas TBP Kritik Tajam Perpusda Tegal, Tidak Ada Buku Kemaritiman

Komunitas Tegal Book Party (TBP) menyayangkan minimnya koleksi literatur bertema kelautan di Perpustakaan Daerah, padahal identitas geografis dan sejarah Kota Tegal sangat erat dengan sektor kemaritiman. Rabu (31/12/2025) By - Muhammad Abdul Aziz | 1 Jan 2026 00.30 WIB

Sumber foto: Muh. Abdul Aziz/lawangberita.id

Tegal, Lawang Berita  Komunitas literasi Tegal Book Party (TBP) melayangkan kritik tajam terhadap minimnya koleksi buku sejarah kemaritiman di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kota Tegal, Rabu (31/12). Meski fasilitas fisik perpustakaan semakin modern, pemerintah kota dinilai abai dalam menyediakan literatur yang menjadi akar identitas warga Tegal sebagai masyarakat bahari.

Perwakilan Tegal Book Party, Azam, menyoroti adanya jurang lebar antara pembangunan infrastruktur kota yang mewah dengan ketersediaan bacaan yang relevan bagi warga. Ia menilai masyarakat memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan sejarah pesisir, namun akses terhadap buku-buku tersebut justru terhambat oleh prosedur perpustakaan yang kaku.

Azam mendesak agar pemerintah tidak hanya sibuk membangun fisik, tetapi mulai menciptakan ekosistem baca yang inklusif di ruang terbuka. Menurutnya, kunci peningkatan literasi bukan pada kemegahan gedung, melainkan pada penyebaran komunitas baca hingga ke wilayah yang selama ini belum tersentuh.

"Dibanding hanya membangun infrastruktur saja, pemerintah juga dapat menyediakan buku-buku sejarah kemaritiman untuk mengetahui identitas Kota Tegal, yang bukunya dapat diakses meskipun tidak di perpustakaan, seperti di alun-alun atau tempat lain," tegas Azzam.

Sumber foto: Muh. Abdul Aziz/lawangberita.id

Di sisi lain, Perpusda Kota Tegal mencatat angka kunjungan stabil di angka 50 orang per hari, didominasi oleh anak-anak. Namun, tingginya antusiasme ini diduga lebih dipicu oleh fasilitas penunjang ketimbang minat baca murni.

Alya Rihadatul 'Aisa, mahasiswa magang di bagian Pengolahan Koleksi Perpusda, mengakui bahwa lingkungan perpustakaan memang dirancang untuk memanjakan pengunjung dengan fasilitas Wi-Fi dan ruang bermain game.

"Lingkungan di sini memang disediakan Wi-Fi yang nyaman. Di ruang rekreasi juga ada fasilitas untuk bermain game," kata Alya. Meski begitu, ia menampik bahwa pengunjung hanya mencari internet gratis. Menurut pantauannya, banyak siswa yang tetap menuntaskan bacaan meski koleksi yang paling diminati masih seputar komik.

Namun, di balik geliat kunjungan fisik tersebut, upaya digitalisasi yang dicanangkan Perpusda Kota Tegal tampaknya masih menemui jalan buntu yang cukup serius. Harapan agar masyarakat bisa mengakses literatur dari genggaman gawai tanpa harus terkendala jarak belum bisa terwujud dalam waktu dekat. Alya mengakui bahwa aplikasi perpustakaan digital milik pemerintah saat ini masih lumpuh akibat persoalan teknis yang belum terpecahkan.

 "Mengenai aplikasi perpustakaan digital, saat ini statusnya masih dalam tahap uji coba. Kami belum bisa mengujinya secara langsung kepada publik karena sistemnya masih mengalami kendala teknis atau error," jelasnya dengan nada sesal.

Postingan populer dari blog ini